LapanTipikorNews.Com, GARUT — Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Garut, Nia Gania Karyana, menyampaikan bahwa pelatihan vokasi bagi masyarakat telah berlangsung selama hampir 13 hari.
Pelatihan ini diikuti oleh 300 peserta dan mencakup delapan bidang keterampilan yang bertujuan meningkatkan kemampuan para pencari kerja di Kabupaten Garut.
Ia menjelaskan bahwa pelepasan sekaligus penutupan pelatihan dilaksanakan pada Kamis, 16 April 2026, mengingat hari berikutnya adalah Jumat.
Kegiatan ini secara resmi ditutup oleh Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, bertempat di UPT BLK Disnakertrans Kabupaten Garut, Jalan Raya Samarang.
Pelatihan yang diberikan meliputi berbagai bidang, seperti pembuatan mebel, menjahit, elektronik, desain grafis, hingga pembuatan upper sepatu, serta keterampilan lainnya.
“Harapan kami, setelah mengikuti pelatihan ini, peserta dapat memilih dua jalur, yaitu bekerja di sektor industri formal atau menjadi wirausaha,” ujar Nia.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa tingkat pengangguran terbuka di Kabupaten Garut mencapai sekitar 6,09 persen. Sebagian besar berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa, pelatihan ini diharapkan mampu menekan angka pengangguran dengan membekali para lulusan keterampilan yang siap pakai.
Ia juga menyebutkan bahwa hingga saat ini tercatat sekitar 2.500 lulusan SMA yang membuat kartu kuning sebagai pencari kerja. Angka tersebut merupakan data yang terdeteksi oleh Disnakertrans dan kemungkinan jumlah sebenarnya lebih tinggi.
Mayoritas pembuatan kartu kuning berasal dari wilayah dengan akses mobilitas yang mudah, seperti Karangpawitan dan Malangbong. Sementara itu, wilayah seperti Cisewu, Bungbulang, dan Talegong belum terdata secara maksimal.
Menurutnya, tantangan terbesar di dunia ketenagakerjaan saat ini adalah tingginya jumlah pencari kerja dibandingkan dengan ketersediaan lapangan kerja. Selain itu, kapasitas pelatihan di UPT BLK juga masih terbatas, sehingga belum semua calon peserta dapat terakomodasi.
Nia menambahkan, tren pelatihan yang saat ini diminati antara lain pelatihan bahasa Jepang melalui LPK, di mana sebelumnya telah diberangkatkan 16 perawat ke Jepang. Selain itu, pelatihan pembuatan upper sepatu juga menjadi favorit karena didukung oleh keberadaan industri terkait di Garut, seperti pabrik Can Sin, Pratama, dan lainnya.
Ke depan, pihaknya berharap dapat mengembangkan berbagai jenis pelatihan vokasi baru, termasuk di bidang pemasaran digital dan afiliator, sebagaimana arahan Bupati Garut, guna menyesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja yang terus berkembang. (Asep Yusup)
