LapanTipikorNews.Com, BOGOR — Ketua Umum Pusat, , menegaskan pentingnya membangun ekosistem informasi yang adil dan inklusif bagi masyarakat adat. Hal itu disampaikan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I di Imah Gede, Lembur Nusantara, Kota Bogor, Jawa Barat, pada 29–30 April 2026.
Munir menilai, persoalan utama dalam pemberitaan masyarakat adat bukan sekadar minimnya liputan, tetapi adanya ketimpangan kuasa dalam produksi informasi. Selama ini, masyarakat adat kerap ditempatkan sebagai objek pemberitaan, bukan subjek yang menyampaikan realitasnya sendiri.
“Persoalan utama bukan hanya minimnya pemberitaan, tetapi ketimpangan dalam produksi pengetahuan,” ujarnya.
Munir menjelaskan, di era digital saat ini, tantangan jurnalisme masyarakat adat semakin kompleks. Hal ini disebabkan ruang digital tidak sepenuhnya netral, melainkan dipengaruhi oleh algoritma, tingkat keterlibatan (engagement), serta ekonomi perhatian.
“Ruang digital dikendalikan logika platform, sehingga jurnalisme masyarakat adat menghadapi tantangan yang lebih besar,” katanya.
Dalam paparannya, Munir memperkenalkan konsep kedaulatan informasi sebagai hak kolektif masyarakat adat dalam mengelola informasi sesuai nilai dan kepentingan mereka.
Ia merinci tiga aspek utama kedaulatan informasi:
Produksi: masyarakat adat menjadi pembuat narasi
Distribusi: konten menjangkau publik lebih luas
Makna: masyarakat menentukan interpretasi informasi
“Tanpa ketiga hal tersebut, masyarakat adat tetap berada dalam posisi subordinat,” tegasnya.
Munir mengajak seluruh pihak, khususnya media, untuk mengubah cara pandang terhadap masyarakat adat.
Ia menekankan pergeseran dari objek liputan menjadi subjek pengetahuan, sekadar akses informasi menuju kedaulatan informasi, dan partisipasi digital menjadi penguasaan ruang digital.
“Jurnalisme masyarakat adat adalah bagian dari perjuangan mempertahankan ruang hidup, identitas, dan masa depan komunitas,” ujarnya.

Rakernas I AJMAN dinilai menjadi momentum strategis untuk memperkuat posisi jurnalis masyarakat adat dalam lanskap media nasional.
Sejumlah tokoh turut hadir dalam kegiatan ini, di antaranya, Molly Prabawaty, Rukka Sombolinggi, Nany Afrida, Ahmad Arif dan Nees Makuba.
Forum ini diharapkan mampu mendorong transformasi jurnalisme masyarakat adat menuju kedaulatan informasi yang lebih kuat dan berkeadilan di Indonesia. (ATP/Red)
